الثلاثاء، 14 مايو، 2013

penyakit pada daun teh

BAB IKERUGIAN ATAU DAMPAK SERANGAN DAN GEJALANYA
1. Exobasidium vexans, Famili Exobasidiaceae, Ordo 


Exobasidiales BLISTER BLIGHT

http://2.bp.blogspot.com/-vGVF7GEyoGo/TlCXiaVWf2I/AAAAAAAAAJ0/WTzQdQ23fAk/s400/cacar%2Bdaun%2Bteh.jpg


Penyakit karat daun teh yang disebabkan oleh jamur E. vexans dapat menurunkan produksi pucuk basah sampai 50 persen karena menyerang daun atau ranting yang masih muda. Umumnya serangan terjadi pada pucukpeko, daun pertama, kedua dan ketiga. Gejala awal terlihat bintik-bintik kecil tembus cahaya, kemudian bercak melebar dengan pusat tidak berwarna dibatasi oleh cincin berwarna hijau, lebih hijau dari sekelilingnya dan menonjol ke bawah. Pusat bercak menjadi coklat tua akhirnya mati sehingga terjadi lubang.
Penyakit tersebar melalui spora yang terbawa angin, serangga atau manusia.Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, angin,ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman.Banyaknya bulu daun pada peko dapat mempertinggi ketahanan terhadap penyakit karat. Kedatangan cacar daun dapat diramalkan apabila dalam 7-10 hari berturut-turut turun hujan.

Penyakit tersebar melalui spora yang terbawa angin, serangga atau manusia.Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, angin,ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman.Banyaknya bulu daun pada peko dapat mempertinggi ketahanan terhadap penyakit karat. Kedatangan cacar daun dapat diramalkan apabila dalam 7-10 hari berturut-turut turun hujan.
Penyakit tersebar melalui spora yang terbawa angin, serangga atau manusia.Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, angin,ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman.Banyaknya bulu daun pada peko dapat mempertinggi ketahanan terhadap penyakit karat. Kedatangan cacar daun dapat diramalkan apabila dalam 7-10 hari berturut-turut turun hujan. Penyakit tersebar melalui spora yang terbawa angin, serangga atau manusia.Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, angin,ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman.Banyaknya bulu daun pada peko dapat mempertinggi ketahanan terhadap penyakit karat. Kedatangan cacar daun dapat diramalkan apabila dalam 7-10 hari berturut-turut turun hujan.http://3.bp.blogspot.com/-h06A8NHpCl0/TlCYAafzOeI/AAAAAAAAAJ8/cISyn7JNe60/s400/CACAR%2BDAUN%2BtEH%2BLAGI.jpg
 2. Penyakit akar
1) Ganoderma philippii 2) Poria hypolateritia 3) Rosellinia arcuata dan R.bunodes 4) Ustulina deusta 5) Armillaria melleROOT FUNGUS GGanoderma philippii lanjut pada tanahhttp://3.bp.blogspot.com/-ir-kFkMlkyg/TlCabIh4h0I/AAAAAAAAAKE/peS5FHcT9i8/s400/penyalut%2Bakar%2Bgenoderma%2Bphilippi.jpgPenyakit akar yang penting pada tanaman teh yaitu:  (1) Penyakit akar merah anggur; 
(2) Penyakit akar merah bata;
(3) Penyakit akar hitam;
(4) Penyakit leher akar;
(5) Penyakit kanker belah. 
Kelima penyakit ini menular melalui kontak akar sakit dengan akar sehat atau melalui benang jamur yang menjalar bebas dalam tanah atau pada sampah-sampah diatas permukaan tanah (jamur kanker belah).
Gejala pada tanaman terserang adalah daun menguning, layu, gugur dan akhirnya tanaman mati. Untuk mengetahui penyebabnya, harus melalui pemeriksaan akar. Batang tanaman teh terbelah dari bagian bawah ke atas, kayu menjadi busuk kering dan lunak sehingga mudah hancur (penyakit kanker belah). Unsur yang mempengaruhi penyebaran penyakit adalah ketinggian tempat, jenis/ kondisi tanah dan jenis pohon pelindung.


3. Penyakit busuk daun Calonectria kyotensis (= Cylindrocladium scoparium),Famili Hypocreaceae, Ordo Hypocreales dan Glomerella cingulata, Famili Phyllacoraceae, Ordo Phyllachorales  Penyakit busuk daun disebabkan oleh C. scoparium dan G. cingulata yang menyerang tanaman teh di pesemaian,dapat mengakibatkan matinya setek teh.
Pada bibit terserang, timbul bercakbercak coklat pada daun induknya,dimulai dari bagian ujung atau dari ketiak daun.Pada serangan lanjut, daun induk terlepas dari tangkai, akhirnya setek mengering /mati. Serangan dimulai dari ujung tunas, kemudian meluas ke bawah akhirnya seluruh tunas mengering.Penyebaran penyakit melalui konidia yang dapat bertahan lama di dalam tanah.Gejala                    :    Timbul bercak daun yang menyebar secara cepat ke bagi­-an batang dan akar, dan tanaman akan segera mati.Penyebaran          :    Pada kelembaban tinggi patogen menyebar secara cepat,yang disebarkan oleh angin atau aliran air tanah, sedangpada keadaan kering pertumbuhan patogen terhambatPengendalian  :-   Menanam varietas yang resisten.-   Membuang bagian tanaman yang terserang.-   Penyemprotan fungisida yang cocok sebagai tindakan pencegahan tiga hari    sekali.   

   BAB IITAKSONOMI DAN SIKLUS HIDUPTanaman teh merupakan komoditas yag mempunyai nilai ekonomis tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan sebagai pemasok devisa negara. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk dapat memecu dan meningkatkan produksi teh, namun dalam pelaksanaanya sering mengalami hambatan-hambatan. Salah satunya adalah serangan hama dan patogen. Salah satu jhama tyang menyerang tanaman teh adalah helopeltis sp., bentuk serangga dewasanya nyamukkepala berwarna hitam, bagian dada dan punggung berwarna hitammerah atau jingga, perut berwarna putih berselang hitam.Pada bagian punggung terdapat jarum atau tanduk.Mikung atau nimfa berwarna kuning pucat. Telur berwarna putih dan diletakan pada bagian internodus (Wibowo et al., 1997). Pracaya (1991) menambahkan hama Helopeltis sp. memiliki panjang tubuh 7-9 mm dan lebar 2 mm,mempunyai kaki yang panjang dan antena yang sangat panjang. Serangga ini mempunyai tipe metamorfosis tidak lengkap.Telur serangga ini mempunya panjang 1,5-2,0 mm berbentuk seperti tabung tetapi sedikit bengkokdengan tutup yang bulat dan berambut pada bagian ujungnya. Telur dimasukan satu-satu dalamjaringan tanaman yang lunak sehingga hanya tutup dan rambut saja yang terlihat dari luar. Nimfa yang telah selesai perkembangannya memiliki panjang tubuh 7 mm dengan antena yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya. Hellopeltis betina bisa hidup sampai 6-10 minggu danbertelur sebanyak 30-60 butir, pada beberapa jenis dapat bertelur sampi 500 butir.Menurut Wibowo et al. (1997) bagian yang terserang adalah pucuk daun teh dan ranting-ranting muda serta daun muda. Bagian yang terserang berbecak cokelat kehitaman, dan pada awalnya becak itu tembus pandang, kemudian kehitaman, dan akhirnya mengering. Hal ini disebabkan serangga dewasa (indung) dan nimfa (mikung) menyerang pucuk, daun muda, dan internodus dengan cara menusukan stilet-nya. Bagian daun yang terserang akan menjadi kering and mengkriting, sedangkan pada serat berat ranting dapat menjadi kanker cabang.    BAB IIICARA PENGENDALIAN

1.      Penyakit karat daun teh yang disebabkan oleh jamur E. VexansPengendalian penyakit dilakukan dengan pengaturan naungan agar sinar matahari dapat masuk ke kebun. Pemangkasan teh di musim kemarau agar tanaman yang baru dipangkas dapat berkembang karena pada saat ini cacar teh sulit berkembang. Pengaturan daur petik kurang dari 9 hari dapat mengurangi sumber penularan baru karena pucuk terserang sudah terpetik. Untuk pencegahan, sebaiknya ditanam klon teh yang tahan seperti PS 1 dan RB 1.-  Menanam varietas yang resisten.-  Memangkas dan membakar daun yang terserang.-  Menggunakan fungisida perlu diperhitungkan untung-ruginya, karena   cendawan ini sulit diberantas, jika ta­naman sudah terlanjur terserang berat.

 2.       Penyakit akar yang penting pada tanaman teh yaitu:
(1) Penyakit akar merah anggur;
(2) Penyakit akar merah bata;
(3) Penyakit akar hitam;
(4) Penyakit leher akar;
(5) Penyakit kanker belah.

Pengendalian dilakukan dengan penanaman pohon pelindung yang tahan,membongkar tanaman teh yang terserang,dan menjaga kebersihan kebun. Juga pemberian Trichoderma sp. 200 gram per pohon pada lubang bekas tanaman yang dibongkar dan tanaman disekitarnya pada awal musim hujan, di ulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di daerah tersebut. Tanaman teh disekitarnya diberi pupuk kandang atau pupuk organik. -   Pembersihan tanah dari sisa-sisa tanaman yang terserang. Pembakaran material sakitTanah dibera (tidak ditanami) selama 2-3 tahun dengan   tanaman inang.
(1) Penyakit akar merah anggur; (2) Penyakit akar merah bata; (3) Penyakit akar hitam; (4) Penyakit leher akar; (5) Penyakit kanker belah.
Pengendalian dilakukan dengan penanaman pohon pelindung yang tahan,membongkar tanaman teh yang terserang,dan menjaga kebersihan kebun. Juga pemberian Trichoderma sp. 200 gram per pohon pada lubang bekas tanaman yang dibongkar dan tanaman disekitarnya pada awal musim hujan, di ulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di daerah tersebut. Tanaman teh disekitarnya diberi pupuk kandang atau pupuk organik. -   Pembersihan tanah dari sisa-sisa tanaman yang terserang. Pembakaran material sakitTanah dibera (tidak ditanami) selama 2-3 tahun dengan   tanaman inang.
(1) Penyakit akar merah anggur;
(2) Penyakit akar merah bata;
(3) Penyakit akar hitam; 
(4) Penyakit leher akar;
(5) Penyakit kanker belah.
Pengendalian dilakukan dengan penanaman pohon pelindung yang tahan,membongkar tanaman teh yang terserang,dan menjaga kebersihan kebun. Juga pemberian Trichoderma sp. 200 gram per pohon pada lubang bekas tanaman yang dibongkar dan tanaman disekitarnya pada awal musim hujan, di ulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di daerah tersebut. Tanaman teh disekitarnya diberi pupuk kandang atau pupuk organik. -   Pembersihan tanah dari sisa-sisa tanaman yang terserang. Pembakaran material sakitTanah dibera (tidak ditanami) selama 2-3 tahun dengan   tanaman inang
. (1) Penyakit akar merah anggur;
(2) Penyakit akar merah bata; 
(3) Penyakit akar hitam;
(4) Penyakit leher akar;
(5) Penyakit kanker belah. Pengendalian dilakukan dengan penanaman pohon pelindung yang tahan,membongkar tanaman teh yang terserang,dan menjaga kebersihan kebun. Juga pemberian Trichoderma sp. 200 gram per pohon pada lubang bekas tanaman yang dibongkar dan tanaman disekitarnya pada awal musim hujan, di ulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di daerah tersebut. Tanaman teh disekitarnya diberi pupuk kandang atau pupuk organik. -   Pembersihan tanah dari sisa-sisa tanaman yang terserang. Pembakaran material sakitTanah dibera (tidak ditanami) selama 2-3 tahun dengan   tanaman inang.3.       Penyakit busuk daun


Pencegahan penyakit dilakukan dengan mengatur kelembaban di pesemaian dan membuat parit penyalur air untuk mencegah penggenangan (drainase).Apabila ditemukan gejala, langsung dilakukan penyemprotan fungisida kontak yang telah direkomendasikan (misal yang berbahan aktif Mankozeb 80%).


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1994. Parasitoids and predators of arthropod pests. Direklorat Bina Perlindungan Tanaman, Direktorat Jendral Perkebunan. 124 p.Arifin, M., A. Iqbal, I.B.G. Suryawan, T. Djuwarso, dan W. Tengkaao. 1997. Potensi dan pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama kedelai. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta/Bogor, 23-25 Agustus 1993. 5: 1383-1393.Bahagiawati A.H. and A.A.N.B. Kamandalu. 1988. The predation of Curinus coeruleus Mulsant, the predator of leucaena psyllid Heteropsylla cubana. Research Journal. 1(1): 32-36.Deciyanto, S. 1989. Pengendalian terpadu hama utama tanaman lada di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian VII(3): 69-74.Dharmadi, A. 1996. Peluang pelepasan Amblyseius deleoni predator tungau hama di perkebunan teh dan hortikultura. Kumpulan Makalah Seminar Sehari Altematif Pengendalian Hama Teh secara Hayati. Gambung, 5 Desember 1996. Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambrmg. p. 9-14.Sulistyowati, E. 1998. Pengelolaan hama utama tanaman kopi. Crash Course SLPHT PL-1 Komoditas Kopi. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao - Dinas Perkebunan Dati I Jawa Timur. 16 p.Holdom, D.G. The use of fungal pathogens to control brown planthopper and other pest insects. 7 p.Huffaker, C.B., R.L. Rabb, and J.A. Logan. 1977. Some aspects of population dynamic relative to augmentation of natural enemy action. In R.L. Ridgway and S.B. Vinson (Eds.) Biological Control by Augmentation of Natural Enemies; Insect and Mite Control with Parasites and Predators. Pnenum, New York. pp. 3-38.   


   PENYAKIT  DAN  PENGKARATAN  PADA  DAUN  TEH
                                                               Kelompok 
BAYU SILALAHI (211310084
)AGUS FIRMAN SIMANJUNTAK (211310082)

ROVO KORESI

  https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQSFJu6qw8asPne_oqrPjBqQUWT0w2uJHyWmo4y8zaE3EiGzJXbxQ  

FAKULTAS PERTANIAN 
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA
MEDAN
2013-2014 

الجمعة، 10 مايو، 2013

laporan ku



A.    Latar Belakang
Ada kalanya lingkungan tidak berpihak pada tumbuhan. Misalnya pada daerah iklim sedang, ada musim dingin yang tidak memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh. Di daerah tropik sekalipun ada saat dimana tumbuhan tidak dapat tumbuh secara optimal, misalnya kondisi lingkungan yang kering berkepanjangan. Untuk itu tumbuhan melakukan dorman. Dormansi dapat didefinisikan sebagai suatu pertumbuhan dan metabolisme yang terpendam, dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak baik atau oleh faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri. Penyebab terjadinya dormansi bermacam-macam yaitu secara spontan, faktor lingkungan mupun hormon pertumbuhan. Dari segi faktor lingkungan yaitu fotoperiodisme merupakan salah satu faktor penting yang merangsang dorman. Hari pendek (short day) merangsang banyak tumbuhan kayu untuk dorman. Dalam respon perbungaan, daun harus diinduksi untuk menghasilkan penghambat (inhibitor) yang diangkut ke tunas-tunas dan menghambat pertumbuhan. Penghambatan ini dapat dihilangkan dengan induksi hari panjang (long day) atau dengan memberikan asam giberelat. Dari segi hormon, ABA tau yang dikenal sebagai asam absitat merupakan zat yang dapat menghambat perkecambahan; menghambat sintesis enzim pada biji yang diinduksi oleh giberelin; menghambat perbungaan; pengguguran tunas dan buah; penuaan daun dan memelihara dormansi.
Dormansi terjadi dalam berbagai bentuk. Dormansi kuncup yaitu suatu meristem kuncup yang tetap berpotensi tumbuh, tetapi tidak melakukan pertumbuhan atau pertumbuhan lambat. Dormansi kuncup didahului oleh perubahan pola pertumbuhan daun. Daun yang seharusnya tumbuh membesar akan mereduksi menjadi semacam sisik. Sisik-sisik yang terbentuk akan membungkus kuncup ujung selama periode dorman dan akan dilepaskan bila kuncup memulai pertumbuhannya kembali. Selain pada kuncup, dormansi juga dijumpai pada berbagai organ, misalnya umbi, rhizoma dan biji.
Dormansi merupakan suatu mekanisme untuk mempertahankan diri terhadap suhu yang sangat rendah (membeku) pada musim dingin, atau kekeringan di musim panas yang merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup tumbuhan tersebut. Dormansi harus berjalan pada saat yang tepat, dan membebaskan diri atau mendobraknya apabila kondisi sudah memungkinkan untuk memulai pertumbuhan.
Dormansi bukan hanya pentidakaktifan metabolisme, tetapi sering melibatkan proses pengembangan organ-organ atau bahan-bahan khusus. Banyak peristiwa kompleks yang berkaitan dengan dormansi, seperti penuaan dan perontokan daun pada pohon-pohon. Dormansi jelas merupakan peristiwa perkembangan terprogram yang memerlukan metabolisme khusus untuk menghentikan aktivitas metabolik. Proses dormansi dapat dipatahkan dengan beberapa proses diantaranya proses pendinginan, pemanasan, kejutan atau goresan pada biji (proses fisika), zat pengatur tumbuh, asam dan basa (secara kimiawi) ataupun dengan cara biologi dengan menggunakan bantuan mikroba.

Tujuan
·         Untuk mengetahui jumblah benih yang tumbuh pada media tanam pasir dan batu bata yag sudah di halus kan
·         Untuk mengetahui pengaruh dormansi
·         Untuk mengetahui pertumbuhan beih kacang hijau












TINJAUAN PUSTAKA

A. Dormansi
Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.
a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi
Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan.
Imnate dormancy (rest): dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ biji itu sendiri.
b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji
Mekanisme fisik
Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi:
·            Mekanis: embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik
·            Fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel
·            Kimia: bagian biji atau buah yang mengandung zat kimia penghambat
Mekanisme fisiologis
Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis, terbagi menjadi:
·            Photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya
·            Immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang
·            Termodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu
c. Berdasarkan bentuk dormansi
Kulit biji immpermeabel terhadap air (O2)
Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nukleos, pericarp, endocarp.
Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skrifikasi mekanisme.
Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole, adapun mekanisme higroskopinya diatur oleh hilum.
Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.
Embrio belum masak (immature embryo)
Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misalnya Gnetum gnemon (melinjo)
Embrio belum terdiferensiasi
Embrio secara morfologis telah berkembang, namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.
Dormansi immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat kimia.
Biji membutuhkan suhu rendah
Biasa terjadi pada spesies daerah temperate, seperti apel dan Familia Rosaceae. Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara: biji dorman selama musim gugur melampaui satu musim dingin, dan baru berkecambah pada musim semi berikutnya. Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan pemberian suhu rendah, dengan pemberian aerasi dan imbibisi.
Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah:
Jika kulit dikupas, embrio tumbuh
Embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah
Embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi
Perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumubuh kerdil
Akar keluar pada musim semi, namun epikotil baru keluar pada musim semi berikutnya (setelah melampaui satu musim
Dormansi karena zat penghambat
            Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangakaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangakaian proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh, namun lokasi penghambatnya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat dimana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.
Teknik Pematahan Dormansi Biji
            Biji telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahakan dormansi dan memulai proses pekecamabahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan unuk mengatasi dormansi embrio.
            Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditunjukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.

B. Perkecambahan Biji
Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang keluar menembus kulit biji (Salibury, 1985: 4160). Di balik gejala morfologi dengan permunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis.
Secara fisiologi, proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting meliputi :
·         Absorbsi air
·         Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
·         Transport materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif bertumbuh
·         Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru
·         Respirasi
Pertumbuhan
Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutam asam giberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal yang merupkan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan (Mayer, 1975:46-43).
Mekanisme utama yang dapat menyebabkan suatu biji dormansi atau terjadinya dormansi yang berkepanjangan dan penyebab terhambatnya perkecambahan adalah :
Faktor lingkungan
1. Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan.
2. Suhu.
3. Kurangnya air.
Faktor internal
1.      Kulit biji – mencegah masuknya gas.
2.      Kulit biji – efek mekanik.
3.      Embrio yang masih muda ( immature).
4.      Rendahnya kadar etilen.
5.      Adanya zat penghambat (inhibitor).
6.      Tidak adanya zat perangsang tumbuh.
Faktor waktu
1.      Setelah pematangan – waktu yang diperlukan oleh biji untuk mulai berkecambah setelah pematangan buah.
2.      Hilangnya inhibitor – waktu yang diperlukan sampai inhibitor hilang.
3.      Sintesis zat perangsang.
Selain beberapa faktor yang telah disebutkan banyak biji yang memerlukan pendinginan agar lepas dari dormansi yang diatur segera setelah masak. Banyak pohon  memerlukan antara 250-1000 jam pendinginan sebelum dormansi dapat dihilangkan. Perlakuan pendinginan juga bukan merupakan satu-satunya yang dapat menghilangkan dormansi. Banyak spesies “hari panjang” memerluakan suhu hangat untuk mengembalikan pertumbuhannya. Kejutan dengan suhu tinggi, dapat pula menghilangkan dormansi secara lebih dini.
Proses dormansi dapat dipatahkan dengan beberapa proses diantaranya proses pendinginan, pemanasan, kejutan atau goresan pada biji (proses fisika), zat pengatur tumbuh, asam dan basa (secara kimiawi) ataupun dengan cara biologi dengan menggunakan bantuan mikroba.

          




BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Waktu Dan Tempat
Di laboratorium teknologi benih fakultas pertanian universitas methodist indoesia
Pkl 10.30 tanggal 11 mei 2013

Alat Dan Bahan
No                     ALAT
          BAHAN
1.    Pot
Pasir
2.    Roll
Batu Bata yang dihaluskan
3.    Penyemprot
Benih Kacang hijau

Prosedur Kerja
1.      Menyiapkan alat dan bahan
2.      Menyediakan benih yang sudah di rendam slama 1 jam sebanyak 48 biji
3.      Menanam biji tersebut dengan mediam tanam bata yg dihaluskan dan pasir
4.        Mengamati perkecambahan untuk kedua pot tersebut setiap hari. Bila tanahnya kering melakukan penyiraman.








HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Pasir
no     jumblah benih
Jumblah benih yang hidup
1.       48
23
2.       48
32
3.       48
37
4.       48
48

Batah
no     jumblah benih
Jumblah benih yang hidup
1.       48
20
2.       48
35
3.       48
42
4.       48
47


   Pembahasan
              Dari data hasil pengamatan menunjukkan bahwa proses pemecahan dormansi lebih cepat terjadi dengan perlakuan chemis/kimiawi dibandingkan dengan perlakuan mekanik. Hal ini berbeda dengan teorinya yaitu proses pemecahan dormansi biji lebih cepat terjadi dengan perlakuan mekanik dibandingkan dengan perlakuan kimia. Mekanisme utama yang menyebabkan suatu biji dormansi atau terjadinya dormansi yang berkepanjangan, penyebab terhambatnya perkecambahan adalah : faktor lingkungan, faktor internal, dan faktor waktu.
Umumnya dormansi biji disebabkan oleh adanya kulit biji yang keras dan sifatnya permeabel terhadap air dan udara serta memberikan hambatan mekanik yang dapat menghalangi embrio untuk tumbuh. Agar dormansi biji berkulit keras dapat dipecahkan, maka harus dilakukan berbagai cara atau perlakuan. Perlakuan ini dapat dilakukan secara mekanik dengan cara menggosok kulit bijinya. Syarat ketika menggosok kulit biji keras ini harus pada bagian yang tidak ada lembaganya agar mikropil (tempat tumbuhnya kecambah) tidak rusak.
Dan klau dilihat jga dri perbandingan data diatas bahwa pasir lebih banyak tumbuh dibanding
Bata ini menunjukan bahwa media tanam pasir jauh lebih baik dibanding batah mungkin dari segi struktur dan pori dari media tanam tersebut.


















KESIMPULAN
·         dilihat jga dri perbandingan data diatas bahwa pasir lebih banyak tumbuh dibanding
Bata ini menunjukan bahwa media tanam pasir jauh lebih baik dibanding batah mungkin dari segi struktur dan pori dari media tanam tersebut.


SARAN
·         sebelum melakukan praktikum harus dipahami dulu isi dari praktikum tersebut
















DAFTAR PUSTAKA

·         Kimbal, Jhon W. 1983. Biologi Jilid 2 Edisi kelima. Bogor : Erlangga
·   Lovelles, A. R. 1999. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: PT.         Gramedia Indonesia.
·         Sallisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press.
·         Sasmitamihardja, Dardjat dan Arbasyah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press.
·  Rahayu, Yuni Sri; Yuliani dan Lukas S Budipramana. 2010. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya: Laboratorium Fistum-Biologi-Unesa.